Ade Paranata

Dari Gelap Menuju Terang

Posted on: November 1, 2010

Assalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh

Tuan-tuan, saudara-saudara, ibu-ibu dan bapak-bapak, yang sudi membaca keterangan agama yang saya sampaikan dalam uraian saya kali ini. Moga-moga Tuhan melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua.

Saya akan membicarakan suatu ayat yang bertemu dalam surah Al-Baqarah yang bunyinya:
Allahu waliyul ladzi na amanuu syukri uhum minal dzulu matin ilan nur, wal ladzi nakafaru auliya uhumut tauuhud yuh rijuu nakhum minannurii ilal dhulu matiin

Artinya : “ Allah adalah menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman, orang yang memunyai kepercayaan yang teguh, dan Allah (pabila orang tersebut betul-betul menganggap Allah menjadi pemimpin) pun menjamin mengeluarkannya daripada gelap gulita menuju kepada terang benderang kehidupan.

Gelap gulita kebodohan kepada kecerdasan, gelap gulita kehidupan yang tak tentu arah kepada tujuan yang sejati, sebaliknya orang yang kafir yang tidak percaya kepada Allah, maka sebaliknya yang terjadi dari terang benderang akan dibimbing oleh tauhuud, oleh kekuasaan-kekuasaan yang tidak bersandar kepada Allah, kekuasaaan-kekuasaan hanya dikendalikan oleh setan, kekuasaan yang demikianlah yang mengeluarkannya daripada terang benderang kembali kepada gelap gulita. Oleh sebab itu, rohani manusia itu melalui diantara gelap dan terang kehidupan itu. Diantara terang dan gelap kehidupan itu, kalau sekiranya jasmani kita, sekiranya badan kita yang lahir ini, diberi cahaya oleh matahari yang terbit diwaktu pagi, yang terbenam diwaktu sore, rohani kitapun diberi juga terang oleh suatu yang lebih terang dari matahari yaitu petunjuk dan hidayah tuhan.

Di dalam Al-quran Tuhan memberikan bujukan, memberikan jiwa besar kepada orang-orang yang beriman, Allah bersabda :
Laa ta’hi wala tahzanu waan tumul aan launa inn kuntum mu’minin.
Artinya : engkau ini orang yang tinggi kalau engkau tetap memegang kepercayaan kepada Allah SWT.

Di dalam perjuangan hidup di dunia ini, perjuangan antara yang haq dan yang bathil antara gelap dengan terang, antara keyakinan dan keraguan, manusia berjalan disekitar itu. Di kiri dan di kanan kita berjumpalah gelap dan terang itu, maka inilah pedoman manusia tadi, apa pedoman itu?. Walaupun bagaimana hebatnya, geloranya, topannya, dan derasnya gelombang kehidupan itu, manusia mesti teguh berpegang kepada iman. Sebab kehidupan di dunia itu menurut peraturannya ialah tidak ada yang tetap, yang tetap itu ialah berubah. Berubah itulah ketetapan yang sesungguhnya yang ada dalam dunia.

Panas sangat terik nanti akan hujan, hujan sangat lebat, benar, nanti akan panas. Disuatu tempat terjadi hujan yang lebat berhari-hari timbul banjir, iya, banjir itu tidak tiap hari nanti dia akan surut. Nah di laut pun demikian pula, ada pasang naik tergenang keatas, besok pagi air itu sudah kering lagi, surut pasang. Begitulah kehidupan di dunia itu. Itu harus kita yakini supaya jangan terombang ambing di dalam kehidupan.

Kalau kita sudah mulai terombang ambing tiba-tiba walaupun bagaimana terangnya hari gelap timbul dalam jiwa kita sendiri. Walaupun panas terik, kita berhujan, dihujani oleh keringat kita sendiri. Jadi, yang penting disini menjaga hati. Sampai Rasulullah, Nabi kita Muhammad SAW :

Innal fi jazadi mougratan ( didalam tubuh manusia itu ada suatu bekuan darah)
Ilal hazala hazala hal jazadu qulluhu wailal fasadad fasadad jazadukulluhu (kalau iya baik seluruh badan jadi baik, kalau iya buruk seluruh badan jadi buruk) apakah itu? Hati.

Hatinya penuh, bukan saja berhati pada daging tapi pada hati dari hati. Isi dari hati. Ada juga akal kita. Oleh karena itu maka suatu waktu saya pernah memanjatkan do’a 8 sifat-sifat lemah, kemerdekaan manusia, hari inipun akan saya ajarkan do’a yang diajarkan juga oleh Nabi, bagaimana menjaga hati, disitu di dalam do’a itu ada tersebut 4 perkara :

Allahumma inni a’udzubika min qalbin la yassahun, famin ilmin la yan fahun, wamin nafsillah yas bakhun, wamin du’a illah yus maun.

Jadi ada 4 perkara. Yang pertama, “aku sangat berlindung kepada engkau ya Allah janganlah sampai terjadi hati saya itu tidak khusuk lagi”

Ini bahaya, mulai bahaya mengancam kepada manusia kalau hatinya tidak khusyuk, yaitu hati itu tentu jelas tujuannya kepada Allah. Allah menjadi pegangannya, Allah menjadi bentengnya, Allah menjadi ingatannya, Allah menjadi tujuannya, dan kepada Allah jikalau iya sembahyang menghadapkan diri menghadapkan hati, maka permohonan kita yang pertama kepada tuhan, ya Tuhanku janganlah sampai hati saya ini tidak khusyuk lagi. Sebagai orang Islam kita shalat 5 waktu. Di dalam Al- quran dikatakan shalat itu ialah khusyuk, terpadu ingatan kepada Allah. Tetapi jikalau hati itu sudah ditumbuhi penyakit, walaupun shalat, mulai dia Allahu akbar pikiran sudah menjalar kepada yang lain. Piutang belum menerima utang belum terbayar. Makanan belum masak, macam-macamlah yang diingat. Padahal kita di dalam Shalat, emm apa arti shalat tadi, ini mulai berbahaya. Banyak orang yang tidak meninggalkan shalat tetapi tidak ada bekas di dalam kehidupannya. Di dalam shalat kita baca “ inna shalati wanusuki wama hiya ya, wamama ti lillahi rabbill alamin” (sesungguhnya shalatku dan ibadatku,dan hidupku dan matiku sama sekali terserah kepada Allah) .

Ini dibiasakan di dalam hati bukan cuma disebut di dalam mulut sebagaimana dikatakan bukan menjadi lips in service sebagai saputangan penggosok gosok mulut, bukan begitu, yang dari hati. Kalau sudah dari hati yang khusyuk ini berbekas kepada kehidupan. “ aku tak takut menghadapi segala keadaan dalam hidup sebab hatiku bertali dengan Tuhan,dari tuhan aku datang kepada tuhan aku akan kembali” inilah namanya hati yang khusyuk. Tadi kalau sekiranya bacaan tetap fasih, tapi tidak ada lagi dari hati, melainkan rutin saja shalat 5 waktu sehari semalam tapi tidak merobah kepada perangai, tandanya shalat tadi tidak khusyuk, inilah yang pertama kita minta kepada Tuhan. Janganlah sampai kita memunyai hati yang tidak khusyuk, hati yang tidak beringat kepada Allah. Kalau hati tidak ingat lagi kepada Allah maka segala pekerjaan yang terlarang, sudah ingat saja kita mengerjakan, menipu, berdusta, membujuk orang lain mengerjakan perbuatan yang salah, mencela, memaki, itulah artinya tidak ingat kepada Allah cuma ingat kepada dirinya sendiri. Inilah yang pertama.

Yang kedua adalah “dan aku berlindung kepada engkau ya Allah daripada ilmu yang tidak memberi manfaat”
Padahal disebutkan di dalam ahli-ahli, ilmu yang memberi manfaat itu ialah ilmu yang membawa manusia kepada iman. Sekarang sudah ilmu banyak, tetapi tidak membawa kepada iman, melainkan membawa kepada celaka. Sudah maju kepandaian orang, sudah maju teknologi orang, sains orang, knowledge orang, dan segala macamnya. Tapi tidak ada manfaatnya kepada manusia. Cuma bahaya dari ilmu yang datang tadi kepada manusia. Sebagaimana ilmu manusia di abad ke 20 yang sangat penting yaitu tentang tenaga atom maka timbulah bom, bom atom, nuklir, sehingga manusia diancam sekarang ini oleh bahaya atom itu dimana-mana. Apabila kita lihat ditelevisi bagaimana mengalahkan demonstrasi, Austria di Jerman Barat , ditempat-tempat yang lain melihat bagaimana bahaya atom itu jika kita jadi perang dunia yang ketiga, ya rabbi ya karim. Bom atom yang jatuh di Hirosima dan Nagasaki belum ada artinya jika dibandingkan dengan bom yang sekarang yang sedang disimpan oleh negara-negara besar untuk menghancurkan musuh. Ini ilmu, tetapi ilmu yang membawa bahaya bukan saja tidak memberi manfaat bahkan memberi bahaya.

Disini terasa oleh kita bahwa ilmu yang ada itupun mesti dikembalikan, dikendalikan oleh iman. Kalau tidak maka nyawa manusia itu akan dipandang sebagai sampah saja. Di jatuhkan satu bom hiidrogen ke dalam kota Jakarta nauudzu billahi min dzalik umpamanya dimasukkan ke dalam kota Jakarta. Satu bom hydrogen saja sudah habis penduduk Jakarta. Oleh sebab itu kita minta kepada Allah “ majulah ilmu manusia, majulah teknologi manusia, tapi jangan hendaknya kemajuan itu membawa kepada bahaya, jangan ilmu pengetahuan itu membawa kepada yang tidak memberi manfaat” inilah doa yang kedua. Kepada Allah seru sekalian alam.
Yang ketiga disebutkan “ dan aku berlindung kepada Alllah daripada nafsu, dari pada diri, daripada ego, daripada tiap-tiap masing-masing diri, yang tidak merasa kenyang” ini juga bahaya besar.
Inilah yang menimbulkan penjajahan di dunia. Inilah yang menimbulkan yang disebut di dalam bahasa Arab “ khazul fiqih” penjajahan setelah perang dunia kedua, sudah banyak negeri-negeri yang merdeka, tapi sekarang timbul lagi penjajahan baru, yaitu penjajahan fikiran. Sehingga bangsa yang merdeka tadi tidak merdeka lagi fikirannya. Dia merdeka meniru kepada bangsa yang lebih kuat. Itu namanya terjajah. Jadi tuan-tuan yang terhormat, apakah pangkalnya ini? Daripada nafsu serakah manusia.

Nafsu serakah manusia sebagaimana tersebut di dalam hadist:
Lauw kana libni adama wadiyah mintah ilal abtasa wama yam lau jau sabni adama ilabturou’

Tafsirnya ( kalau manusia itu mendapat sautu lembah yang penuh dengan kekayaan emas (satu lembah) dia ingin supaya mendapat satu lembah lagi yang penuh juga dengan emas, dapat 2 lembah dia minta 3 lembah yang penuh dengan emas) nafsu manusia tidak pernah kenyang. Padahal akhirnya kalau dia sudah menutup mata tidak ada yang memenuhi perutnya melainkan tanah.

Saya teringat akan ceritera yang disampaikan oleh Ralph Leo Tolstoy (seorang pujangga rusia yang sangat terkenal) bahwa “ orang yang tidak mempunyai nafsu yang kenyang itu, pada suatu hari katanya ada satu orang kaya mempunyai tanah yang luas dia mengatakan kepada orang-orang, boleh tuan-tuan mengambil tanah kepunyaan saya ini berapapun tuan suka, berapa tuan mau. Syaratnya Cuma begini “ tuan berjalan dari timur ke barat lantas sebelum matahari terbenam tuan sampai kembali ketempat tuan melangkah, pertama tadi, ah berapa saja tuan mau ambil saja.

Maka datanglah si Tamak tadi. Tuan yang punya asli tanah tadi mengatakan bahwa bawalah bekal jangan lapar dijalan nanti, baik di bawanya nasi sebungkus dia berjalan. Kemudian dia berjalan mulai pukul 7 pagi kalau diambilkan kekuatan hendaknya pukul 10 dia sudah makan, melangkah lagi beberapa ratus meter atau sekian, nanti boleh kekuatan buat kembali. Sehingga sebelum matahari terbenam dia sudah sampai ketempat dia menuju bermula. Tapi ini orang dia bernafsu betul, dia meminta supaya banyak tanah yang dapat diambil, dibawanya nasi sebungkus tapi dia tidak jalan ditengah jalan dia tidak berhenti, dia berpifikir nanti hilang berapa meter kalau saya berhenti tanah yang kurang buat saya, dia terus berjalan. Dia tidak ingat bahwa kekuatan masa pergi yang lebih cepat tidak sama dengan kekuatan masa pulang yang begitu lambat, itu dia tidak bisa taksir, dia jalan saja cepat-cepat. Sudah pukul 1 ini perjalanan, lantas nanti kembalinya kelemahan badan, kondisi dan situasi tidak sama lagi. Tidak secepat dia pergi dahulu lagi dia pulang kembali, maka bukan pukul 7 dia sampai atau pukul 5 sore tadi dia sampai ketempat dia berjalan bermula, karena jalannya dia sudah lunglai, kakinya sudah penat, badan sudah letih, kira-kira baru pukul 2 dia nda dapat berjalan lagi karena sudah lapar. Dia coba makan-makan sedikitpun tidak bisa lagi seenak makan yang tadi, habis makanpun dia berjalan lagi, pukul 3 dia terhenti jauh lagi kalau sampai tempat pertama menurut syarat yang diberikan oleh yang empunya tanah tadi . “ kalau engkau tidak sampai lagi ketempatmu yang pertama sorenya, tanah ini tidak akan kau dapat lagi semua”

Memang tidak sampai dia, pukul 4 dia sudah berhenti berjalan karena nda kuat lagi, mata sudah gelap. Akhirnya karena sudah terlalu capek, sudah terlalu penat, mati dia ditengah jalan.

Berapa dia dapat tanah itu lagi, Cuma sepanjang badannya untuk kuburannya, yang lain tinggal semua.
Inilah yang dibawakan oleh Raph Leo Tolstoy yang sesuai dengan hadist Nabi : bahwa diri manusia tidak pernah merasa kenyang. Kita berkehendak tidak berbatas, tetapi tenaga kita sendiri terbatas. Ini kerap kali tidak difikirkan oleh manusia, dia punya angan-angan, macam teori dia punya dia keluarkan, dia lupa bahwa nanti tenaganya itu akan berkurang. Bisa karena sakit, karena lapar, karena tua, sebagaimana pepatah dari nenek moyang kita:

Tanda-tanda kita dikirimkan lebih dulu bahwa kita tidak akan lama lagi disini, apa? Rambut, gigi, mata sudah mulai kabur, uban sudah mulai bertabur, gigi sudah mulai gugur, kulit sudah mulai kendur. Kalau mata sudah kabur, uban sudah bertabur, gigi sudah gugur, kulit sudah mulai kendur, sudah 4 perkara yang kelima adalah umur. Ini kerap kali manusia lupa sebab itu dikatakan “ Ya tuhanku, janganlah sampai aku ditumbuhi oleh penyakit nafsu yang tidak mau kenyang-kenyang itu”

Kemudian itu muncul lagi doa yang ke empat : disebutkan disitu ; “ Wamin du’ailal yus ma hun’”. Ah ini lebih berbahaya lagi, apa artinya? Dan aku berlindung kepada engkau ya Allah daripada doa yang tidak didengar lagi, mendoa mendoa ya Allah kasi aku ini, kasi aku kesempatan, tapi tidak didengar lagi.

Tuan-tuan para pembaca yang tercinta, ada tersebut dalam hadist Nabi :
Waman basuliha mun, wamas rabuu uhaamus, wa’u siya’ bil haram, ya rabbi ya rabbi fama yustajabullah, ashk assa akh baraa.

Ya Allah badan sudah penuh dengan kekotoran, badan sudah penuh dengan debu, tangan menengadah dua ke atas, ya rabbi ya rabbi Tuhanku tolong aku ya Allah bela aku, padahal yang dimakan haram yang diminum haram dibesarkan dengan yang haram, fana yustajabullah (dengan jalan apa Allah ta’ala akan mengabulkan doa itu, badan kotor menghadap kepada yang bersih meminta diberi kebersihan, bagaimana caranya.
Tuan-tuan yang terhormat pernah dalam Al-qu’an tuhan mengatakan :

La yan nurr ilaihin, wala yukallimu ilannurru ilaihin. “ Allah tidak mau mengajak dia bercakap, Allah tidak memandang kepada dia. Saya sendiri dengan segala kerendahan hati mengatakan bagaimana beratnya kita bertemu dengan seorang-orang besar lalu dia mengulurkan tangan kepada kita, tapi mata kita tidak dilihatnya, sengsara rasanya, bagaimana dengan tuhan, kalau tuhan tak mau melihat kita. Ah sebab itu para pembaca yang tercinta, berdoalah kepada tuhan supaya hati kita selalu terbuka jangan sampai kita tidak mempunyai hati yang tidak khusyuk, ilmu yang tidak memberi manfaat, jiwa yang tidak pernah kenyang dan doa yang tidak pernah didengar, ya Allah dengarkanlah doa kami ini, dan tunjukkan kepada kami jalan yang benar, beri kami terang dalam kehidupan.

Yang ke empat, wamin du’a ilal yus bahun. Dan aku berlindung kepada engkau ya Allah jangan sampai doa ku tidak terdengar, tidak didengar.

Sebagai mana diketahui doa itu adalah tulang sum sum ibadat kita sendiri. Segala perbuatan kita patrikan dengan doa dan harapan mudah-mudahan di kabulkan oleh Allah disampaikan maksud kita, macam-macam yang kita minta kepada Allah. Tapi kalau doa itu sudah tak diperdulikan lagi oleh tuhan apa celaka kita, apa daya upaya kita, disini kita melihat apa sebab maka doa tidak disampaikan, tidak didengar, tidak diperkenankan oleh tuhan, tentu saja bukan sepenuhnya salah tuhan melainkan salah kita sendiri, di dalam Al-quran dikatakan, “ iyya kana’ budu, waiya kanas ta’in” Al- Fatihah disebut, kepada engkaulah kami menyembah, dan kepada engkaulah kami memohon, tapi dengan tidak sadar kerap kali kita berbuat terbalik “ iyya kanas ta’in waiya kana’ buduu” kepada engkaulah kami memohon, lalu kepada engkaulah kami menyembah. Minta tolong dulu baru menyembah. Minta tolong banyak-banyak tapi terima kasih tidak ada, tentu saja nda didengar oleh tuhan.

Di dalam satu hadist tersebut :
Ask assa auw akk baraa ya muddu yadaihi ilas sama iya rabbuhu ya rabb waman taan hu anhum wamas rabuu ahan wamal basuhu wa udzia bill haramm famann yustajabuuna
Tafsir : badan sudah kotor sudah berkerumut, kesusahan, kegelisahan kehidupan terbayang kepada tubuh sendiri, lalu menadahkan tangan kelangit, meminta kepada Allah ya tuhanku.

Bagaimana bisa tuhan mengabulkan dengan fikiran yang kotor engkau menghadap kepada tuhan, kalau tidak terkabul jangan tuhan yang disalahi, hatimu sendirilah yang kau salahi, apa yang telah kau perbuat dalam hidup ini, merasa terdesak kau ingat pada tuhan, merasa senang kau lupakan tuhanmu, di dalam dapat percobaan kau merengek mengadu kepada tuhanmu, jiwa yang seperti ini, janganlah sampai timbul kepada diri kita sendiri, saya sudah mengalami , apabila saya berhadap-hadapan dengan orang besar saya ingin dia menghadapkan matanya kepada saya “ apa kabar saudara” kabar baik, dia liat mata saya, saya liat mata dia, tapi kalau ketika dia bersalam dengan saya dia melihat kepada orang lain bukan main sakit hati saya, apa salah saya mengapa dia begitu saya tidak dipandang, sedangkan dengan sesama manusia lagi begitu perasaan kita, bagaimana dengan tuhan.

Layandzuru ilaihin walan kalimuhun “Allah hendak memandang sebelah mata kepada kita, ndak mau bercakap dengan kita,sepatahpun, langit mana tempat kita bernaung, bumi mana tempat kita berpijak, kalau sudah diujiankan oleh Allah

Inilah yang perlu dijaga tuan-tuan terhormat, dalam doa keempat itu.
Saudara-saudara moga-moga Allah memberikan kepada kita hati yang tau, sebagaimana ayat yang saya sebutkan pertama kali,

Allahu waliyul ladzi na amanuu yukrii uhum minal dzulu matin ilan nur, “ Allah lah jadi pemimpin bagi orang yang beriman sehingga dari gelap gulita tadi di bawa dia oleh tuhan kepada terang benderang. Wal ladzi nakafaru “ tetapi orang-orang yang tidak punya kepercayaannya kepada tuhan “ auliya uhumud tauhudd “ pemimpinnya bukan tuhan tetapi setan, dia akan membawa orang itu daripada terang benderang menuju kepada gelap gulita kehidupan ini, kita jadi meraba-raba dalam gelap kehidupan, dalam meraba-raba itu masih ragu entah kemana akan pergi, mautpun datang, gelap sudah, di dunia gelap, diakhiratpun gelap. Naudzubillah hi mindzalik.

Pembaca yang budiman, moga-moga ini menjadi kenang-kenangan kepada tuan, di dalam perjalanan yang jauh, di dalam peristirahatan hidup, mendapat ketetapan hati tuma’ ninahh
Assalamualaykum warahmatullahi wabaraktuh.

*) Kenangan Untuk Buya Hamka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • None
  • ucha: oh ade,,serius skali dikau..

Categories

%d bloggers like this: