Ade Paranata

Pegangan Hidup

Posted on: November 8, 2010

Assalamualaykum Warahmatullah’ Wabarakatuh

Para pembaca dan peminat keterangan-keterangan agama yang akan saya uraikan kali ini. Saya menyatakan rasa bahagia rasa syukur kepada Allah dapat menyampaikan keterangan agama saya ini sekarang. Moga dapat tuan-tuan baca dan memahami ketika tenang-tenang dengan anak-anak dirumah serta keluarga. Yang akan menjadi ceritera saya sekarang ini adalah apa yang pernah kejadian di zaman nabi kita Muhammad SAW. Di dalam riwayat ada di ceriterakan bahwa pada suatu hari kira-kira pukul Sembilan pagi sepenggala matahari naik, Rasulullah SAW berjalan dari rumahnya, dari biliknya menuju kedalam masjid beliau yang mulia di Madinah.

Ketika itu biasanya ada juga orang yang sedang sembahyang di masjid, sembahyang sunat dhuha, tapi umumnya masyarakat sudah keluar dari rumahnya pagi-pagi bekerja menurut bidang masing-masing yang pergi bertani yang pergi berniaga, yang pergi mengembalakan unta atau kambingnya, tinggallah beberapa orang saja. Beliau lihat disudut masjid ada satu orang pemuda sedang duduk tafakur termenung. Mukanya kelihatan muram saja menunjukkan kesedihan yang terpendam di dalam hatinya.

Rasulullah mendekat kepada pemuda yang tafakur itu. Setelah dilihatnya rasulullah datang, diapun menengadahkan muka. Rasulullahpun bertanya, mengapa disaat begini engkau duduk tafakur di dalam masjid dan wajahmu ada menampakkan kesedihan, atau muram durja. Apakah yang engkau derita sekarang ini? Jadi, pemuda tadi menjawab : hazanulladzi madni ya rasulullah, waduyunun artinya : “ aku ditimpa duka cita ya rasulullah karna hutang”. Rupanya pemuda tadi berhutang, hutang telah lama jatuh janji sudah dekat, persediaan buat membayar belum ada itu yang saya menungkan ya rasulullah.

Dengan senyum rasulullah menjawab : “ sudikah kamu jikalau aku ajarkan kepadamu suatu bacaan, apabila bacaan ini berupa do’a engkau baca pagi, dan nanti petang-petang engkau baca dengan hati khusyuk. Insyaallah hutangmu itu akan terbayar. Kemudian pemuda itu dengan senang hati menjawab : “ tentu ya rasulullah, aku senang sekali kalau dapat engkau ajarkan kepadaku apa isi doa itu”.

Lalu rasulullah membacakan, mengajarkan kepada pemuda itu tadi, doa ini, inilah yang akan saya bacakan mudah-mudahan kita semua dapat pula mengambil bacaan ini menjadi bacaan sehari hari, kita baca pagi, kita baca petang, apa bunyinya :

Allahumma inni a’u dzubika minal hammi wal hazani, wa a’u dzubika minal ajzi wal kazli, wa a’u zubika minal bukhli wal jubbni, wa a’u dzubika min galabitdaini wakahhril rijal.

Sebelum kita uraikan atau kita tafsirkan satu persatu artinya satu persatu baik kita artikan secara keseluruhan lebih dulu, artinya ialah “ ya Tuhanku aku berlindung kepada engkau dari pada ini, lalu disebut 8 banyaknya: yang pertama aku berlindung kepada engkau ya Allah daripada duka cita, daripada kesusahan. Susah dan duka cita, ah sudah 2. Dan aku berlindung kepada engkau ya Allah daripada malas, daripada lemah dan malas, jadi 4. Dan aku berlindung kepada engkau daripada bakhil berat mengeluarkan uang, dan daripada pengecut atau penakut, sudah 6. Dan aku berlindung kepada engkau daripada pengaruh berhutang dan daripada kekuasaan orang lain atas dirikita sehingga kita tidak memunyai kemerdekaan pribadi lagi. I

nilah 8 yang diminta kepada Tuhan moga-moga kita jangan diserang oleh penyakit ini. Karena kalau ada ini penyakit yang 8 perkara kita tidak mempunyai personality yang dapat tegak, padahal dalam didikan agama kita tempat kita takut yaitu Allah. Yang lain tidak ada.

Yang pertama susah, apabila orang telah susah fikirannyapun sudah tertumbuk, jalan untuk maju sudah tidak ada lagi, padahal dalam kehidupan itu manusia tidak akan berjalan diatas jalan yang datar saja yang bertaburkan kembang. Kehidupan itu, mendaki, menurun, melereng, berenang melalui riuh ombak dan gelombang itu pasti dalam hidup. Apa yang disusahkan, kusut, tak ada kusut yang tidak selesai. Keruh, tak ada keruh yang tidak terjernihkan. Apabila fikiran kita telah susah lagi dulu, maka gelaplah jalan yang kita tempuh ke dalam kehidupan tadi.

Yang kedua, kita disuruh berlindung kepada Allah daripada dukacita, yang menyebabkan kita dukacita itu memang banyak misalnya, kehilangan barang yang disukai, kematian orang yang disenangi, bahaya yang datang dengan tiba-tiba, orang yang ditunggu sudah lama tidak datang, barang yang dicari tak bertemu dan lainlain sebagainya. Lalu tumbuh hazad (duka cita). Kalau kesusahan menjadikan soal yang kita hadapi menjadi kusut, kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap. Ini dua, dua hal yang bisa menghambat menjadi rintangan bagi manusia didalam kehidupannya.

Yang ketiga, aku berlindung kepada Allah minal ajazi. (lemah), lemah apa? Lemah fikiran. Tidak ada energy lagi. Tida ada inisiatif lagi, menyerah saja. Lemah. Belum dihadapi suatu soal hati lebih dulu lemah. Merasa itu soal terlalu besar. Padahal kalau di hadapi tidak ada kusut yang tidak terselesaikan, tidak ada keruh yang tidak terjenihkan.yang lebih berbahaya lagi ialah:

Yang keempat, malas. Duh kalau sudah malas, apa yang akan dikerjakan lagi. Kita duduk saja termenung-menung dalam kemalasan, lalu angan-angan banyak cita-cita mati. Angan-angan hendak terbang padahal sayap tidak ada. Angan-angan hendak mempunyai ini,hendak mempunyai itu, hendak mempunyai Mercedes benz, hendak mempunyai rumah besar tapi ikhtiar tidak ada sebab itu ada pepatah dari orang-orang tua kita,di zaman dulu dikatakannya : “ mati belanda karna pangkat, mati cina karna kaya, mati keeling karna makanan, mati Indonesia karna angan-angan” . ini dia, angan-angan karna malas tadi jadinya berangan-angan. Dan itu juga membentuk dalam diri kita, orang malas itu jalannya itu lunglai saja, matanya muram saja, tak jauh dia memandang. Inilah penyakit.

Yang kelima dan enam, dan aku berlindung kepada Tuhan daripada bakhil dan pengecut. Nah ini lebih berbahaya. Dikumpul-kumpulnya harta banyak-banyak maksudnya tadi hendak mengusai harta tadi, lama-lama dengan tidak disadarinya harta itulah yang mengusai dia. Dia menjadi bakhil, siang malam tidak ada kesenangan sibuk cari uang. Kemudian simpan. Gunanya ya cuma mengumpul ngumpul saja. Akhirnya berapa banyak orang yang mengumpul harta banyak-banyak faedahnya tidak didapat.

Yang keenam, pengecut. Pengecut ini menjadikan separuh dari kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah orang “ kalau engkau berniaga atau berusaha meskipun modalmu tadinya tidak ada asal engkau berani itulah modal utama dalam hidup”. Sesuai dengan pepatah melayu atau pepatah Indonesia, lama. “ putuslah tali layang-layang, robek kertas tentang bingkai, hidup jangan mengepalang, tidak kaya berani pakai”. Sebab itu kalau orang rugi berniaga itu belum rugi. Yang penting masih punya keberanian. Yang penting kepercayaan orang lain atas diri kita masih ada. Modal yang pertama adalah keberanian menghadapi hidup.

Yang ketujuh, aku berlindung kepada engkau ya Allah daripada pengaruh utang. Itulah anak muda yang duduk disudut masjid tadi, dipengaruhi oleh utang, sampai rasulullah sendiripun mengatakan, “ iya kum waddaina (jagalah supaya kalau sedapat-dapatnya jangan sampai berhutang). Bisa-bisa saja berhutang, kalau keberanian tidak ada bagaimana caranya mencari jalan buat membayarnya. Tetapi kalau pengecut, berhutang lagi, payah buat membayar. Fainau hammun billaili wamazallatun binnahari (hutang itu susah pada malam hari, mata tidak mau tidur, dengan apa dengan jalan apa timbangan hutang tadi, berapa utang, sehingga malam tidak mau tidur). (kalau sianghari, badan merasa hina tak berani keluar rumah, kota Jakarta begitu besar, silang siur jalan-jalan raya, MH Thamrin, diponegoro, imam bonjol, cut meutia dan lain-lain nama jalan, ada orang itu berjalan, bertambah lama bertambah kecil jumlah jalan yang diingatnya. Kalau orang lain mempunyai seratus nama jalan dia paling tinggi Cuma dua saja.

Yang kedelapan, kita tidak memunyai lagi kemerdekaan diri, kita terlalu banyak berhutang budi kepada orang, kita terlalu banyak mendapat hadiah daripadanya, kita terlalu banyak dan lain-lain, sehingga mulut kita jadi tertutup tak dapat bercakap lagi, ditekan oleh utang budi kepada orang tadi. Kemerdekaan diri tak ada lagi.

Inilah delapan perkara yang ditunjukkan oleh nabi kepada pemuda yang duduk tadi. Dapatlah kita mengambil pedoman kehidupan untuk kita sendiri. Bahwa yang amat penting lebih dulu adalah kemerdekaan jiwa. Kalau sekiranya di dalam negara yang telah merdeka kita sama sekali menyorakkan, meliuk lambaikan kemerdekaan dimana saja kita pergi. Tapi, banyak orang yang lupa negaranya telah merdeka dirinya sendiri telah menjadi terjajah bukan belanda, karena belanda telah lebih 50 tahun pergi meninggalkan negeri ini, dan bukan bangsa yang lain tapi penjajahan yang datang dari sifat-sifat yang lemah yang kita katakan tadi.

Kesusahan, kalau kesusahan kita perturutkan jalan yang ditempuh menjadi buntu, kita tak tau lagi kemana akan pergi, susah, pagi susah, malam susah. Sehingga kusut benang itu tak tau lagi jalan keluar. Padahal pangkal dari kesusahan itu bukan dari luar melainkan dari dalam jiwa kita sendiri, dalam dada kita sendiri.

Yang kedua, dikatakan duka cita: saya teringat kepada satu pantun melayu, dikatakan : kalau berbiduk jangan bermenung, kalau bermenung riakpun tiba, kalau duduk jangan termenung, kalau temenung hatipun iba. Kalau hati sudah iba jalan menjadi tertumbuk, sampai adapula pepatah dari nenekmoyang kita : hati yang marah mendorongkan, hati yang iba menjauhkan, seperti itu. Haruslah kita bersedia membesarkan jiwa kita sendiri “marfu arrash maufurul kiyamah” kepala terangkat, harga diri dijaga.

Yang bagian kedua, malas: kelemahan ini ada juga yang karena penyakit. Kenapa lemah saja, kenapa tiap-tiap pekerjaan yang dihadapi pesimis yang timbul, sehingga timbul malas. Kalau perlu kita pergi kepada dokter, terutama psikiater. Kita tanyai, dimana segi kelemahan ini. Karena kelemahan jiwa, kemalasan dan lemah itu dari jiwa pangkalnya. Ahli-ahli ilmu kesehatan yang telah mendalami, mengetahui hubungan antara jasmani dan rohani kita. Sehingga timbul ilmu yang dinamai psikohomatic, psikoterapi, menganalisa jiwa dimana seginya, maka timbul lemah, maka timbul malas. Disini kita memerlukan kuatnya energy, sebab apabila manusia mempunyai jiwa yang besar pekerjaan yang besarpun dipandangnya kecil. Tetapi apabila manusia mempunyai jiwa yang kecil, pekerjaan yang kecilpun dipandangnya besar. Kita misalkan saja kedua orang pemimpin yang kita cintai, bung karno dan bung hatta, mereka mempunyai jiwa-jiwa yang besar. Sebab itu mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Indonesia yang besar yang terjadi daripada puluhan ribu pulau dengan empat, lima patah perkataan “ dengan ini kami menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Tapi kalau beliau misalnya berjiwa kecil, bagaimana ini Indonesia bisa merdeka kita sudah miskin melarat, dulu dijajah Belanda, ditekan Jepang. Dia mengkaji itu pekerjaan yang detil detil, yang kecil-kecil itu dia anggap itu besar, ini misalnya. Makanya orang-orang yang ajjazh (orang-orang yang lemah) atau yang pemalas tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang besar-besar.

Kemudian yang kelima dan keenam, aku berlindung kepada engkau daripada bakhil, menerima mau banyak-banyak mengeluarkan paling sedikit. Dia anggap sebagaimana saya katakan tadi, tadinya dia menguasai harta akhirnya dengan tidak disadarinya dia yang dikuasai oleh harta. Akhirnya orang yang begini kerjanya hanya mengumpul-ngumpul harta saja. Kemudian tuhan memanggilnya ke akhirat, kemudian mati, tidak ada yang dapat dibawanya lagi. Tinggal menjadi perselisihan antara anak dan cucu. Di hari-hari pertama anak tadi menangis, ayahnya telah mati, tapi di hari kedua dan ketiga dimana kunci ditaruh aya. Dimana simpanan ayah, berapa peninggalan ayah, lalu di berkelahi anak tadi. Karena si ayah tadi bakhil. Nikmatnya tidak dia rasai, dia sendiri sengsara. Diperintah oleh hartanya itu.

Yang keenam, jubbun (pengecut) dia berjalan siang, dia berjalan malam hari. Kelihatan olehnya pohon kayu bergerak-gerak, disangkanya itu hantu. Kemudian dia lari, lari terus, bertambah lari bertambah takut. Akhirnya dia pingsan karena sudah lama berlari. Dilihat tidak ada apa-apa kalau orang yang berani. Ini orang yang gagal dalam perjalan hidupnya. Karena penakutnya, karena pengecutnya. Padahal didalam keterangan agama kita sendiri. Orang-orang yang beriman kepada Allah, “la tahinu, wala tahzanu waan tumul a’launa inkuntum mu’minin“ jangan engkau merasa lemah, jangan engkau merasa duka cita, jangan engkau merasa pengecut, engkau tinggi kalau engkau beriman kepada Allah SWT”. Dengan iman kepada Allah itu kita melihat alam, dalam keindahannya dalam kekecilannya, yang besar cuma Allah. Kita tidak takut, karena tidak ada satu bahaya yang akan menimpa kepada diri kita, kalau tidak tuhan yang menentukan. Ini pokok tuan-tuan, para pembaca yang budiman.

Yang ketujuh, dikatakan : kita berlindung kepada Allah daripada pengaruh hutang, alangkah kecilnya jiwa orang yang berhutang, karena dia telah berhutang kepada orang lain. Dibikin janji tanggal sekian akan dibayar, tanggalnya sudah dekat persediaan belum ada, lalu timbul kecil dalam jiwa kita sendiri.

Yang kedelepan wakahhril rijal, yang kedelepan sebagaimana telah kita uraikan tadi, pengaruh orang lain terhadap kita sendiri. Sehingga kita tak berani lagi menyebut kebenaran. Tidak berani lagi mengatakan yang haq telinga telah tertutup, mulut telah penuh dengan air. Tak dapat dibuka lagi. Segan, kita telah terlalu banyak berhutang budi kepada orang, walaupun sudah jelas perbuatan orang itu salah. Kita tidak berani lagi menegur. Dengan demikian timbulah di dalam masyarakat apa yang disebut dalam bahasa araba munafik yaitu lain dimulut lain dihati. Hati mengatakan perbuatan orang ini salah, tetapi mulut mengatakan, bagaimana fikiran saya, bagaimana pendapat saya tentang perbuatan saya ini, boleh bapak, bagus bapak , ini sudah betul bapak, padahal tidak. Inilah kecelakaan yang nomor delapan. Kita minta kepada Allah supaya dilepaskan dari pengaruh orang, dari pengaruh manusia sehingga kita tidak berani lagi menyebut apa yang benar itu benar, padahal di dalam hadist itu dikatakan, kulil haq walau kata orang katakan kalau memang benar walau itu pahit sekalipun. Ini mudah menyebutnya, tetapi kalau jiwa sudah terkekang tidak berani menyebutnya lagi.

Para pembaca yang budiman. Itulah delapan perkara diperingatkan. Dituliskan, diajarkan, disuruh hafal oleh nabi kepada pemuda yang didapati duduk termenung seorang diri tadi. Dengan patuh dia turuti kehendak nabi, dia baca itu tiap pagi, dia baca itu tiap-tiap petang, dia fahamkan apa isinya. Lalu timbul energy baru dalam dirinya, semangat yang baru, langitpun kelihatan cerah, bintangpun kelihatan berkelap kelip, mataharipun kelihatan bercahaya, dan dia sudah melihat kehidupan ini dengan mata yang terang.

Kemudian dia bertemu dengan nabi, ya rasululullah saya mengucapkan terima kasih, penyakit-penyakit itu sudah tak ada pada saya lagi, hutang saya sudah terbayar. Dan saya akan memulai hidup yang baru. Inilah jawab dari pemuda tadi. Dan inilah pula jadi pedoman bagi kita kaum muslimin kalu terjadi pada diri kita salah satu dari yang delapan perkara itu.

Baca doa ini pagi, baca doa ini petang, lalu berusaha, jangan cuma berdoa-doa, berusaha, berdoa Allah akan membukakan kapada kita pintu rahmatnya memberikan nikmatnya kepada kita yang berlipat ganda sehingga segala sesuatu yang dikiri kanan kita menjadi kekayaan, menjadi inspirasi buat maju kedepan dalam kehidupan ini.

Saudara-saudara yang budiman, yang saya muliakan, moga-moga pengaruh dari hadis ini, doa ini, masuk kedalam diri saudara dan saudara menjadi orang muslim yang merdeka, yang sejati. Sekianlah pandangan saya, moga moga ada manfaatnya bagi para pembaca yang tercinta.

Wassalamu’alai’kum Warahmah tullahhi Wabarakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • None
  • ucha: oh ade,,serius skali dikau..

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: